>Kasian banget

>Kirana Ramadhani, bayi perempuan berusia dua tahun, membutuhkan pertolongan dengan segera. Anak kedua pasangan Maryadi (33) dan Eti Rohati (29) ini menderita kelainan pada kepalanya sejak berusia enam bulan.

Saat ditemui di rumah kontrakan milik Haji Mad di Kampung Rawabogo RT 02/18, Kelurahan Jatimekar, Jatiasih, Kota Bekasi, Kirana sedang terjaga dari tidurnya. Tak seperti bayi normal, dia harus ditopang ibunya, bahkan untuk duduk di pangkuan sekalipun.

Kaki dan tangannya mengecil, sebagian kulit tubuhnya juga mengeriput. Adapun kepalanya pipih, tidak lagi membulat. Terlihat sebuah benjolan di belakang kepala itu.

“Bidan yang membantu persalinan bilang, benjolan di kepala itu biasa terjadi. Benjolan itu awalnya ada di atas kepala, sekarang ini sudah bergeser ke belakang,” ujar Eti, Senin (17/1/2011).

Eti mengatakan, Kirana lahir normal dengan bobot 3,7 kilogram. Baru usia dua bulan, bayi kelahiran 28 September 2008 itu sudah tidak mau lagi menyusu kepada ibunya. Sebagai gantinya, Eti memberinya susu bubuk. Untuk asupan makanan sehari-hari, dia menyuapi sang bayi dengan nasi dan sayuran yang sudah diblender.

Eti tak mengira Kirana bakal mengalami kelainan seperti saat ini. Apalagi anak pertamanya, Nur Afni Mardianti (8), tumbuh normal dan kini sudah duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Gejala kelainan di kepala Kirana itu, kata Eti, baru terlihat saat sang anak berusia enam bulan.

Pasangan Maryadi-Eti Rohati dan anak-anaknya tinggal di sebuah rumah petak berukuran 9 m x 3 m, dengan sewa Rp 300.000 per bulan. Rumah itu hanya terdiri atas satu kamar tidur, satu ruang tamu, dan satu dapur yang digabung dengan kamar mandi.

Penghasilan Maryadi, yang bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah proyek pembangunan gedung di Jalan Sudirman, kata Eti, hanya cukup untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Dia berharap ada pihak yang memberikan pertolongan agar putrinya itu bisa sembuh dan tumbuh layaknya anak-anak normal.

“Kami belum membawa pergi dia berobat ke mana-mana, hanya sesekali terapi tenaga prana. Kalau ke dokter, kebayang banyak biayanya. Terus terang kami enggak punya.” kata Eti sembari mengaku tak memiliki kartu jamkesmas maupun jamkesda.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Retni Yonti mengatakan, dia sudah meminta tim kesehatan dari Puskesmas Jatiasih mendatangi langsung keluarga Kirana. Dokter puskesmas akan memeriksa seperti apa kondisi kesehatan bayi tersebut.

Tim kesehatan itu pula yang nantinya memberikan rekomendasi kepada Dinkes Kota Bekasi tentang langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan tersebut.

“Kalau orangtua dia masuk kategori miskin, tentu akan kami bantu. Yang penting dilihat dulu kondisinya,” kata Retni

Iklan

Komentar ditutup.