>Nico yg kejam

>Emosi yang meluap justru membongkar kedoknya sendiri. Bila dia tidak menembaki bus Transjakarta, bisa jadi Nico alias Siang Fuk, masih ongkang-ongkang kaki mengurus bisnis haramnya.

Polsek Penjaringan dimpin Kapolsek AKBP Achmad Ibrahim menggerebeknya di rumah mewah tiga lantai di Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) Penjaringan PIK pada Minggu (16/1) malam.

Dalam penggerebekan itu terbongkar jati diri Nico. Dari rumah itu, petugas menemukan ruang khusus yang isinya satu durum bubuk pembuat narkoba, 11.558 ekstasi, 956,2 gram shabu dan 2.730 pil Happy Five.

Satu persatu tameng Nico terbongkar. Dalam keterangan pers yang digelar di Polres Metro Jakarta Utara, Selasa (18/1) siang, Nico dihadirkan bersama enam orang yang lainnya. Berbeda dengan lainnya, wajah Nico tak terlihat. Ia mengenakan kupluk hitam yang menutup keluruh kepalanya dan hanya menyisakan matanya saja yang terlihat.

Nico tak hanya memiliki pabrik narkoba. “Nico adalah salah satu owner di Raja Mas. Dalam menjalani bisnis narkobanya ia termasuk orang yang kejam,” ujar Kapolres Jakut Kombes Andap Budhi Revianto.

Kekejaman Nico diperlihatkan atas ulahnya menyekap dan menyiksa dua anak buahnya yang terlambat menyetor uang hasil penjualan narkoba. Kedua anak buah Nico itu; Che Ce dan Iwan, ditangkap polisi dalam penggerebekan di kediaman Nico.

“Mereka disekap dua bulan karena utang pembayaran hasil penjualan narkoba Rp50 juta. Bahkan keduanya disiksa, termasuk ditembak,” ungkap Andap yang didampingin Kapolsek Metro Penjaringan AKBP Achmad Ibrahim.

Dua tahun malang melintang dalam bisnis haram, jejak Nico nyaris tak terendus polisi. Kapolres mengungkapkan, transaksi narkoba dalam jumlah besar rencananya dilakukan pria berkulit putih itu. Namun, informasi penangkapan Nico cepat menyebar hingga petugas tak bisa mengungkapnya.

Polisi kini tengah mendalami keterlibatan Nico terhadap sindikat narkotika. Dari barang bukti yang ditemukan di rumahnya, sudah dipastikan kalau pria ini merupakan salah satu bandar besar narkoba di Jakarta. Informasi yang dihimpun Pos Kota menyebutkan Nico yang juga bergelut di bidang kayu ini tengah mengincar bisnis perhotelan di Jakarta Barat.

BISNIS JUDI

Bisnis hitam yang digeluti Nico bukan cuma narkoba. Pria yang diduga bagian dari sindikat narkoba internasional ini juga meraup uang haram di arena perjudian.

Dari rumah yang menjadi kantor judi online di Jl. Sunter Indah VIII, Blok HG, Sunter Jaya, Tanjung Priok, polisi digelandang lima pria dan seorang wanita. Keenamnya yang diduga pengelola judi togel dan judi bola online adalah, Benny Japri, 23, Hon Liong alias Hermanto, 30, Dedy Gunawan, 21, Andri Chandra, 20, Kek Soni, 21, dan wanita bernama Vivi, 42. “Menurut Nico, mereka adalah petaruh tapi kami akan dalami peranan enam orang itu,” kata Andap.

Mengenai lencana yang ditunjukkan Nico pada sopir bus Transajakarta, kapolres membantahnya. Katanya, “bukan lencana polisi yang ditunjukkan tapi kartu identitas Raja Mas.”

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Drs Baharudin Jafae, memberi sanggahan sama. Ia mengaku tak ada lencana Polres Jakarta Barat yang ditemukan dari tangan Nico. “Tapi hal ini tetap akan kami telusuri, ujarnya. “Jika terbukti lencana itu ada makan dipastikan oknum Polri yang memberikannya dan akan mendapat ditindak tegas.”

Sedangkan mengenai striketer Propam di mobil Nico, Baharudin mengatakan hal itu bisa dilakukan siapa saja. Alasannya, banyak pedagang menjual striker serupa.

MESIN UANG POLISI

Sepak terjang Nico yang dua tahun malang melintang di dunia terlarang lengkap dengan kepemilikan senjata api, dalam pandangan Neta S Pane, pengamat kepolisian, bagian dari gerakan peredaran narkoba yang rapi. “Jaringan narkoba adalah bisnis besar yang rapi sehingga tak mudah dilacak,” ujarnya.

Meski begitu, Neta menilai tak tertutup kemungkinan polisi mengetahuinya. Namun, aksinya tak terjangkau. “Soalnya, bandar narkoba bisa menjadi mesin uang atau ATM bagi polisi,” ujarnya. “Cara ini membuat mereka tak tersentuh hukum.”

Mengenai senjata api dan atribut kepolisian, Neta mengatakan sudah seharusnya polisi mengusut kasus itu. “Sudah jelas senjata api di tangannya menjadi berbahaya. Lagi pula, ia warga sipil yang tak bisa boleh senjata api,” katanya.

Menanggapi Nico sebagai mata-mata polisi, menurut Neta, harus didalami kemungkinan itu. Alasannya, tanpa fakta dugaan menjadi tak bisa dibenarkan. “Harus digali lebih dalam apakah ia benar orang binaan polisi. Di satu sisi, polisi juga harus bisa bersikap netral dalam mengungkapnya,” katanya.

Seperti diketahui, Minggu (16/1) terjadi penembakan terhadap Bus Transjakarta di Halte Pluit, Jakarta Utara. Pengendara sedan Mitusubishi itu kesal karena ketika ia masuk jalur busway, terhalang oleh oleh Bus Transjakarta. Dengan gaya koboi penumpang sedan itu menembak Bus Transjakarta. Berdasarkan laporan itu terungkap bahwa pelakunya adalah Nico yang etrnyata juga banda narkoba dan judi.

Iklan

Komentar ditutup.