>Usai Setubuhi Pacar, Pemuda Pengangguran Diringkus

>Rabu, 19/01/2011 17:49 WIB
Usai Setubuhi Pacar, Pemuda Pengangguran Diringkus
Samsul Hadi – detikSurabaya

Trenggalek – Pepatah Jawa penak sak klentheng soro sak rendheng (enak sesaat sengsara semusim) mungkin layak menggambarkan nasib Muhammad Efendi (21) warga Desa Ngrambingan, Kecamatan Panggul, Trenggalek.

Karena menolak bertanggungjawab usai merasakan kenikmatan dalam beberapa kali bersetubuh dengan pacarnya, pemuda pengangguran ini dilaporkan dan diringkus polisi.

Efendi dilaporkan ke polisi oleh keluarga pacarnya, sebut saja Fifi (16) asal Desa Banjar Kecamatan Panggul Trenggalek. Saat ini pelaku sudah dijebloskan ke dalam sel tahanan Mapolres Trenggalek untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Pelaku kami akankan Minggu sore kemarin dari rumahnya dan sekarang masih dalam proses pemeriksaan,” kata Kasat Reskrim Polres Trenggalek, AKP Saiful Rohman kepada wartawan di Mapolres, Rabu (19/1/2011).

Saiful menjelaskan, dari proses pemeriksaan pihaknya mendapati jika persetubuhan antara pelaku dan korban sudah terjadi berulang kali, sejak keduanya menjalin hubungan asmara. Pelaku bisa dengan mudah melampiaskan nafsu birahinya, setelah sebelumnya menjanjikan ke korban siap bertanggung jawab dengan menikahinya.

Namun kenyataan lain muncul saat korban mengeluh terlambat datang bulan. Bahkan hingga korban dipastikan hamil pelaku tetap sulit dimintai pertanggunganjawaban bahkan terkesan berusaha menghindar. Tak terima dengan sikap pelaku, keluarga korban memilih membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

“Korban dalam pemeriksaan memang membenarkan hamil, tapi itu belum kami buktikan. Secepatnya dia akan kami visumkan, termasuk untuk membuktikan benar tidaknya ada pelanggaran asusila terhadapnya,” jelas Saiful.

Sementara terhadap pelaku, apabila nantinya terbukti bersalah akan dijerat dengan Pasal 81 ayat 2 UU Perlindungan Anak No.23 tahun 2002, tentang tindak pidana melakukan persetubuhan dengan anak di bawah umur.

“Karena korbannya masih berusia 16 tahun, UU Perlindungan Anak yang kami gunakan. Itu ancaman hukumannya maksimal 12 tahun penjara,” pungkasnya.
a

Iklan

Komentar ditutup.