>Sudah Siapkah Nasdem Menjadi Partai Politik ?

>Jakarta – Tidak mudah bagi Nasional Demokrat (Nasdem) untuk bertahan dalam setiap pemilu bila benar-benar berubah menjadi partai politik. Sejumlah tantangan sudah di depan mata bila Nasdem mendeklarasikan diri sebagai partai.

“Tingkat survival partai, perebutan basis massa, dan kekhawatiran pengunduran diri anggota Nasdem akan menjadi tantangan serius bagi Nasdem,” ujar Peneliti Charta Politika Indonesia Arya Fernandes kepada detikcom, Minggu (23/1/2011).

Pertama, tingkat survival politik. Lemahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik dan rendahnya party-id akan mempengaruhi daya tahan partai politik pada setiap pemilu. Apalagi, adanya keinginan sejumlah partai di parlemen untuk menyederhanakan jumlah partai dengan menaikkan angka ambang batas perolehan suara partai di parlemen (parliamentary threshold).

“Kenaikan angka PT menjadi 2,5 persen pada pemilu 2009, menyebabkan 10 partai politik kehilangan kursi di DPR. PBR misalnya, yang pada 2004 mendapat 13 kursi DPR, PDS (12 kursi), dan PBB (11 kursi) tidak lagi mendapat kursi pada 2009 menyusul jebloknya perolehan suara partai,” kata Arya.

Menurut Arya survival politik ditentukan oleh penguatan kaderisasi, diferensiasi program dan ideologi partai.

“Pada level program misalnya, belum terlihat adanya differensiasi program yang kuat antara program yang ditawarkan Nasdem dengan Gerindra dan Hanura. Tidak kuatnya diferensiasi tersebut jelas akan mempengaruhi pilihan politik masyarakat terhadap Nasdem,” kata Arya.

Arya menambahkan, survival politik Nasdem juga ditentukan oleh kaderisasi partai. Belum kuatnya framing dan tindakan-tindakan kolektif yang ditawarkan Nasdem menyebabkan program kaderisasi partai akan mengalami kesulitan.

Kedua, perebutan basis massa. Menurut Arya, Nasdem tidak memiliki basis sosial yang kuat. Ketiadaan basis sosial yang kuat ini menyebabkan Nasdem berebut basis-basis massa dengan sejumlah partai lain.

“Saya melihat ada perebutan basis-basis massa antara Golkar, Gerindra, Hanura, Demokrat, dan Nasdem pada daerah-daerah yang dulu dikuasai Golkar sejak Orde Baru dan paska reformasi. Ketiadaan basis sosial tersebut dapat diatasi dengan memperkuat pelembagan organisasi dan kekuatan figur. Perolehan suara signifikan Demokrat pada 2004 dan kemenangan secara fenomenal pada 2009 dapat menjelaskan kekuatan figur walau Demokrat tak memiliki akar atau basis sosial yang kuat,” tandas Arya.

Menurut Arya, tantangan ketiga yang akan dihadapi Nasdem adalah “eksodus” politik kader-kader Nasdem. “Bila Nasdem benar-benar berubah jadi partai, saya khawatir akan munculnya “eksodus” politik besar-besaran dari Nasdem,” jelasnya.

Arya mencontohkan, di sejumlah daerah misalnya, kader-kader Nasdem pada saat yang sama adalah anggota salah satu partai politik. Jadi, bila Nasdem berubah jadi partai, ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, kader tersebut memilih tetap bertahan di Nasdem atau mengundurkan diri dari Nasdem.

“Tapi saya melihat kemungkinan kedua yang banyak terjadi, karena kecenderungan status-quo politik, apalagi bila ada ancaman recall dari pengurus partai,” tutur Arya.
(mpr/van)

Iklan

Komentar ditutup.