>Indonesia Kebanjiran Cabai Impor

>Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Dadi Sudiana meminta pemerintah untuk membatasi peredaran cabai impor, khususnya di pasar tradisional agar petani cabai tidak semakin merugi.

“Inilah yang saya pertanyakan kepada pemerintah lewat Kementerian Pertanian, namun mereka malah menyangkal adanya cabai impor ini padahal saya dan teman-teman sudah lihat sendiri ada cabai impor ini di pasar tradisional,” ujarnya di Jakarta, Selasa (25/1).

Sedikitnya 15 ton cabai impor masuk ke pasar tradisional per harinya. Cabai impor masuk ke Pasar Induk Tanah Tinggi di Tangerang dan Pasar Induk Kramat Jati.

Cabai impor itu, imbuh Dadi, diduga berasal dari Thailand, Taiwan, dan China dengan bentuk cabai rawit dan cabai merah besar.

“Saya melihat di pasar Pasar Induk Tanah Tinggi di Tangerang dan mendengar laporan cabai impor ada di Pasar Induk Kramat Jati. Cabai impor yang datang per harinya satu kontainer atau kira-kira 15 ton,” kata Dadi

Secara fisik, terdapat beberapa perbedaan antara cabai impor ini dengan cabai lokal. Untuk cabai rawit impor (caplak) bentuknya agak panjang dan agak keriting sehingga nyaris menyerupai cabai keriting lokal.

Sementara untuk cabai merah besar, warna merahnya kurang mencolok jika dibanding dengan cabai merah besar lokal.

“Untuk rasa pedas, relatif tidak ada perbedaan antara rawit lokal dengan impor. Namun untuk cabai merah besar, yang impor rasanya kurang pedas dibanding yang lokal,” tandas Dadi.

Untuk rawit impor, rata-rata harganya Rp35.000 per kilogram. Harga ini berada di bawah harga rawit lokal yang kini mencapai Rp40.000 per kg. Sementara untuk cabai merah besar impor dijual Rp23.000 per kg atau di bawah cabai merah besar lokal Rp30.000 per kg.

“Untuk kemasannya, yang rawit memakai semacam jaring yang biasanya dipakai untuk mengemas buah kelengkeng, sedangkan untuk yang cabai merah memakai karton,” imbuh Dad
http://rimanews.com/read/20110125/13…intah-berkilah

Harga Turun, Cabai Impor Banjiri Pasar
Selasa, 25 Jan 2011 10:13 WIB

JAKARTA, RIMANEWS-Meski harga cabai mulai turun dalam pekan ini, cabai impor ternyata masih ditemukan di sejumlah pasar tradisional.

Menurut Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Dadi Sudiana, sedikitnya 15 ton cabai impor masuk ke pasar tradisional per harinya.

“Saya melihat di pasar Pasar Induk Tanah Tinggi di Tangerang dan mendengar laporan cabai impor ada di Pasar Induk Kramat Jati. Cabai impor yang datang per harinya satu kontainer atau kira-kira 15 ton,” kata Dadi, Selasa (25/1).

Cabai impor itu, imbuh Dadi, diduga berasal dari Thailand, Taiwan, dan China dengan bentuk cabai rawit dan cabai merah besar.

Secara fisik, terdapat beberapa perbedaan antara cabai impor ini dengan cabai lokal.

Untuk cabai rawit impor (caplak) bentuknya agak panjang dan agak keriting sehingga nyaris menyerupai cabai keriting lokal.

Sementara untuk cabai merah besar, warna merahnya kurang mencolok jika dibanding dengan cabai merah besar lokal.

“Untuk rasa pedas, relatif tidak ada perbedaan antara rawit lokal dengan impor. Namun untuk cabai merah besar, yang impor rasanya kurang pedas dibanding yang lokal,” tandas Dadi.

Untuk rawit impor, rata-rata harganya Rp35.000 per kilogram. Harga ini berada di bawah harga rawit lokal yang kini mencapai Rp40.000 per kg. Sementara untuk cabai merah besar impor dijual Rp23.000 per kg atau di bawah cabai merah besar lokal Rp30.000 per kg.

“Untuk kemasannya, yang rawit memakai semacam jaring yang biasanya dipakai untuk mengemas buah kelengkeng, sedangkan untuk yang cabai merah memakai karton,” imbuh Dadi.
http://rimanews.com/read/20110125/13…-banjiri-pasar
s

Iklan

Komentar ditutup.