>Fenomena Gagap dalam "The Kings Speech"

>

Gangguan bicara berupa gagap menarik perhatian dunia setelah dikisahkan secara apik dalam film The King’s Speech yang tahun ini berhasil menyabet empat piala Oscar dari 12 nominasi.

Tema besar film tersebut adalah upaya Raja George IV (Colin Firth) mengatasi kekurangan dirinya yang gagap untuk mencapai prestasi gemilang dipandu seorang terapis bicara bernama Lionel Logue (Geoffrey Rush).

Gagap ditandai oleh pengulangan spasmodik atau terjadi pemblokan dalam suara pada saat berbicara. Kondisi gagap bervariasi dalam dimensi taraf yang ringan sampai berat. Biasanya anak kesulitan dalam mengucapkan kata-kata tertentu atau bahkan sama sekali tidak mampu mengucapkan suara huruf awal b, d, s, t dari kata-kata tertentu.

Huruf b, d, s, t adalah huruf yang membutuhkan tenaga pada saat mengucapkannya dan justru kata-kata yang diawali dengan huruf itulah yang sering mengalami gangguan pengucapan pada penderita gagap.

Kegagapan dialami sekitar 1 persen dari populasi dunia, tetapi sekitar 4 persen orang diperkirakan pernah mengalami gagap di masa kecilnya. Meskipun begitu belum diketahui obat yang bisa menyembuhkan gagap.

Film The King’s Speech dianggap berhasil menangkap stigma sosial yang kerap dialami penderita gagap. Rasa malu karena gangguan bicara itu kerap menimbulkan rasa rendah diri dan menyebabkan tekanan sehingga kontraproduktif dan menyebabkan serangan gagap makin berkembang.

Banyak penyebab

Menanggapi fenomena gagap dalam film The King’s Speech, para ahli mengatakan film tersebut masih memercayai mitos yang menyebutkan trauma pada masa kecil dan pola asuh menjadi penyebab gagap pada anak. Dalam film memang dikisahkan Raja George IV menjadi gagap karena ayahnya mendidik dengan keras.

“Belum ada bukti ilmiah yang menyebutkan dua hal itu menyebabkan gagap. Banyak orangtua yang anaknya gagap bertanya pada saya apa yang salah dari cara asuh mereka,” kata Nan Ratner, ahli psycholinguist dari University of Maryland.

Ia mengatakan, ada beberapa penelitian yang mengaitkan gagap dengan faktor keturunan. Artinya, para penderita sudah membawa disposisi kondisi saraf yang membuat mereka rentan terhadap perkembangan kesulitan bicara.

Walau begitu, ia mengatakan pola asuh orangtua yang salah juga bisa menyebabkan gagap yang dialami anak bertambah buruk. Gagap dapat berkembang bila anak-anak yang kidal dipaksa untuk menggunakan tangan kanan dalam melakukan aktivitas tertentu, seperti menulis atau makan. Pemaksaan tersebut akan berpengaruh terhadap konflik emosional dan anak menjadi tertekan. Efek emosi yang tertekan pada anak tertentu akan tertuju pada gangguan bicara.

Ia menyarankan agar anak yang mengalami gagap diterapi sedini mungkin. “Penanganan sejak dini berdampak signifikan karena 80 persen penderita gagap yang masih berusia 2-5 tahun bisa kembali normal,” katanya.

Lain halnya dengan Raja George yang menderita gagap seumur hidupnya karena terlambat diterapi. Ia memang bisa mengatasi kekurangannya dan bisa berpidato mengobarkan semangat rakyatnya, tetapi kegagapannya belum hilang seutuhnya.

Para ahli juga menilai metode terapi yang dilakukan Logue, seperti dalam film ini masih cukup relevan untuk situasi sekarang. “Logues mengajarkan raja untuk mengatasi rasa takutnya bicara di depan umum, ia juga memakai musik yang keras untuk mengalihkan perhatian saat bicara dan ia juga melarang raja untuk berhenti merokok,” kata Ratner.

Mengenai umpatan yang dipakai raja untuk mengeluarkan kata-kata yang sulit diucapkan, Ratner berpendapat hal itu belum tentu berhasil. “Saya rasa itu tidak akan membantu malah akan membuat Anda jadi lawan bicara yang buruk,” katanya.

Sumber : LiveScience

Iklan

Komentar ditutup.